Subtitle DCP: Format, Cara Kerja, dan Tips agar Tampil Rapi
Subtitle yang salah format bisa membuat teks tidak muncul di layar bioskop. Kenali jenis subtitle DCP, standar Interop dan SMPTE, serta cara menyiapkan file terjemahan dengan benar.
Daftar isi
Subtitle membuka pintu bagi film Anda untuk ditonton lebih banyak orang. Film Indonesia yang tayang di festival luar negeri membutuhkan teks bahasa Inggris, sementara film asing yang tayang di sini membutuhkan teks bahasa Indonesia. Di bioskop digital, subtitle DCP memiliki aturan teknis sendiri yang berbeda dari subtitle di platform streaming.
Artikel ini menjelaskan jenis-jenis subtitle di DCP, format berkas yang dipakai pada standar Interop dan SMPTE, serta langkah praktis menyiapkan file terjemahan. Tujuannya sederhana: teks muncul tepat waktu, mudah dibaca, dan tidak menimbulkan masalah saat diputar di server bioskop.
Dua Cara Menampilkan Subtitle di DCP
Secara umum, ada dua pendekatan. Pertama, subtitle dibakar langsung ke gambar atau burn-in. Kedua, subtitle disimpan sebagai berkas terpisah yang dirender oleh server atau proyektor saat film diputar.
Subtitle Burn-in
Pada burn-in, teks menjadi bagian permanen dari setiap frame. Keuntungannya, tampilan dijamin sama di semua bioskop dan tidak bergantung pada kemampuan server. Kekurangannya, Anda perlu membuat DCP gambar terpisah untuk setiap bahasa, dan teks tidak bisa dimatikan.
Subtitle Terpisah (Timed Text)
Pada pendekatan ini, teks disimpan sebagai berkas subtitle yang dirujuk oleh CPL. Satu berkas gambar dapat dipakai bersama beberapa berkas subtitle berbeda bahasa. Cara ini lebih efisien untuk distribusi multi-bahasa dan sering dipakai dalam versioning DCP.
| Aspek | Burn-in | Timed Text |
|---|---|---|
| Konsistensi tampilan | Selalu sama | Bergantung pada render server |
| Multi-bahasa | Perlu DCP gambar per bahasa | Cukup tambah berkas subtitle |
| Bisa dimatikan | Tidak | Ya, dengan memilih CPL lain |
| Ukuran paket | Lebih besar untuk banyak versi | Lebih hemat |
Format Subtitle DCP: Interop dan SMPTE
Format berkas subtitle dipengaruhi oleh standar DCP yang Anda pilih. Pada DCP Interop, subtitle umumnya berupa berkas XML bergaya CineCanvas, disertai berkas font atau gambar PNG untuk setiap baris teks. Pada DCP SMPTE, subtitle mengikuti standar SMPTE ST 428-7 dan dibungkus ke dalam berkas MXF, dengan font tertanam di dalamnya.
Perbedaan ini penting karena server bioskop membaca keduanya dengan cara berbeda. Mencampur subtitle Interop ke paket SMPTE, atau sebaliknya, bisa membuat teks tidak muncul sama sekali. Jika Anda belum yakin standar mana yang tepat, baca dulu artikel Interop vs SMPTE DCP.
Peran Font
Subtitle berbasis teks membutuhkan font yang ikut dikirim di dalam paket. Font yang dipilih harus mendukung semua karakter yang dipakai, termasuk huruf beraksen atau aksara non-Latin. Jika karakter tidak didukung, layar bisa menampilkan kotak kosong. Pastikan juga lisensi font mengizinkan penyematan.
Subtitle Terbuka dan Closed Caption
Subtitle terbuka tampil di layar untuk semua penonton. Closed caption berbeda, karena teksnya hanya ditampilkan pada perangkat khusus yang dipakai penonton tertentu, misalnya penonton dengan gangguan pendengaran. Closed caption biasanya juga memuat keterangan suara, seperti bunyi pintu atau musik yang mulai terdengar. Tidak semua bioskop memiliki perangkat pendukungnya, jadi fitur ini perlu dikonfirmasi lebih dulu dengan pihak penayang.
Menyiapkan File Subtitle Sebelum Mastering
Penerjemah biasanya bekerja dengan format umum seperti SRT. Format ini bisa dikonversi menjadi subtitle DCP, asalkan isinya sudah rapi. Hal-hal berikut sebaiknya diperiksa sebelum file diserahkan:
- Timecode sesuai versi final. Subtitle harus dibuat dari picture lock terakhir, bukan dari versi edit sebelumnya.
- Frame rate jelas. Timecode pada 23,976 fps dan 24 fps berbeda, sehingga perlu disesuaikan dengan frame rate DCP.
- Maksimal dua baris. Teks tiga baris menutupi gambar dan sulit dibaca.
- Panjang baris wajar. Baris yang terlalu panjang memaksa mata bergerak jauh di layar lebar.
- Durasi tampil cukup. Penonton butuh waktu untuk membaca, terutama pada kalimat panjang.
- Encoding UTF-8. Ini mencegah karakter khusus rusak saat dikonversi.
Selain itu, siapkan informasi bahasa yang dipakai. Kode bahasa akan dicantumkan dalam metadata dan nama paket sesuai Digital Cinema Naming Convention.
Posisi dan Gaya Teks di Layar Lebar
Layar bioskop jauh lebih besar dari monitor editing. Teks yang terlihat pas di laptop bisa terasa terlalu besar atau terlalu kecil di auditorium. Ukuran, warna, dan posisi vertikal sebaiknya diuji dalam konteks rasio layar film Anda, baik Flat maupun Scope.
Warna putih atau kuning muda dengan tepian gelap biasanya paling mudah dibaca di atas berbagai jenis gambar. Hindari efek dekoratif berlebihan. Untuk adegan dengan teks penting di bagian bawah gambar, subtitle dapat dipindahkan sementara ke atas agar tidak menutupi informasi visual.
Kesalahan Umum dan Cara Mencegahnya
Beberapa masalah subtitle sering baru ketahuan saat pemutaran uji di bioskop. Ini daftar yang patut diwaspadai:
- Subtitle bergeser beberapa detik karena dibuat dari versi edit lama.
- Teks tidak muncul karena format tidak cocok dengan standar paket.
- Karakter rusak akibat encoding atau font yang tidak lengkap.
- Typo dan terjemahan janggal yang lolos dari proofreading.
- Subtitle bertabrakan dengan teks grafis seperti judul atau keterangan lokasi.
Sebagian besar masalah ini terdeteksi melalui pemeriksaan menyeluruh sebelum pengiriman. Tahapan lengkapnya dibahas di artikel quality control DCP.
Penutup
Subtitle DCP dapat dibuat dengan burn-in atau sebagai timed text terpisah. Pilihan formatnya bergantung pada standar Interop atau SMPTE, kebutuhan multi-bahasa, dan tujuan distribusi. File yang disiapkan dengan rapi, dari timecode hingga font, akan menghindarkan Anda dari kejutan di hari penayangan.
INDO DCP menyediakan layanan subtitle integration, mulai dari konversi SRT, penyesuaian timecode, hingga pengecekan tampilan di layar. Silakan hubungi kami untuk berdiskusi tentang kebutuhan subtitle film Anda.